Jumat, 10 Agustus 2018

Tugas Fisika Jangka Sorong

TUGAS FISIKA
Membuat Jangka Sorong Sederhana

Setelah anda mempelajari materi KD. 3.2 tentang Pengukuran, untuk memahami lebih lanjut dalam pengukuran dan pembacaan alat ukur, silakan anda bersama kelompoknya, mendiskusikan cara pembuatan alat ukur panjang, jangka sorong dari bahan – bahan yang ada di sekitar anda. Setelah selesai membuat coba tentukan tingkat ketelitian jangka sorong yang anda buat.
Sebagai bahan referensi anda bisa melakukan searching untuk mencari tahu banyak tentang cara pembuatan jangka sorong sederhana.
Langkah – langkah yang dilakukan :
1.      Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Alat dan bahan yang diperlukan : karton duplek, HVS warna, alat tulis, gunting, cutter, lem, double tape
2.      Buat lay out jangka sorong.
3.      Beri sentuhan artistik pada akhir pembuatan jangka sorong.
4.      Ambil benda yang akan diukur dengan jangka sorong yang telah dibuat (balok/kubus)
5.      Ukur panjang, lebar dan tinggi dari benda yang anda ukur.
6.      Catat hasil pengukuran dengan menggunakan aturan angka penting.
7.      Lakukan pengukuran secara berulang dan bergantian sehingga anggota kelompok faham cara menggunakan jangka sorong.
8.      Dari data – data yang ada, hitung volume benda yang anda ukur, perhatian aturan operasi angka penting.
9.      Buat laporan kegiatan kelompok untuk dipresentasikan di pertemuan yang akan datang.

10.  Laporan kegiatan pembuatan dan penggunaan jangka dorong sederhana, dikirim ke email rinahanariah@gmail.com, paling lambat hari Kamis, 16 Agustus 2018

Materi KD 3.2 Pengukuran

Materi Ajar :

PENGUKURAN

Untuk memudahkan Anda mempelajari materi dalam bab ini, perhatikan peta konsep berikut.

A. Prinsip Pengukuran

Dalam fisika hasil pengukuran sangat penting karena berpengaruhi pada suatu hipotesis atau teori dari penelitian yang dilakukan. Pengukuran adalah adalah kegiatan membandingkan nilai suatu besaran      dengan besaran lain yang ditetapkan sebagai satuan. Saat melakukan pengukuran, hendaknya kita harus memahami prinsip – prinsip pengukuran agar dapat meminimalisasi kesalahan. Adapun prinsip – prinsip pengukuran meliputi :

a.       Akurasi

Akurasi (ketepatan) menunjukkan tingkat kedekatan hasil pengukuran dengan nilai yang sebenarnya. Semakin kecil perbedaan antara nilai yang diperoleh dalam pengukuran, maka semakin tepat hasil pengukurannya.

b.      Presisi

Presisi (ketelitian) menunjukkan seberapa dekat perbedaan (penyimpangan) hasil pengukuran suatu besaran pada saat dilakukan pengulangan pengukuran. Semakin dekat perbedaan hasil pengukuran yang dilakukan berulang, maka semakin teliti proses pengukuran.

B. Ketidakpastian Pengukuran

Semua pengukuran selalu diliputi dengan kesalahan yang berkontribusi terhadap ketidakpastian hasil pengukuran tersebut. Terdapat dua jenis kesalahan pengukuran, yaitu kesalahan acak dan kesalahan sistematik.

Kesalahan acak

Kesalahan acak adalah kesalahan dalam pengukuran yang memungkinkan nilai – nilai dari besaran yang diukur menjadi tidak konsisten ketika pengukuran tersebut diulang.

Kesalahan sistematis

Kesalahan sistematis adalah kesalahan pengukuran yang disebabkan oleh ketidaktepatan sistem pengukuran tersebut. Kesalahan sistematis dapat dikurangi atau dihilangkan dengan usaha – usaha berikut :

1)      Lakukan kalibrasi terhadap alat ukur yang digunakan dalam pengukuran dengan benar dan pastikan bahwa kita telah memberikan skala yang tepat.

2)      Atur titik nol (0) skala alat ukur agar berimpit dengan titik nol (0) jarum penunjuk skala.

3)      Periksa keadaan alat sebelum melakukan pengukuran.

4)      Bacalah skala secara tegak lurus.

5)      Periksa keadaan lingkungan, seperti suh, tekanan udara, dan kelembapan sebelum dan sesudah pengukuran

C. Besaran, Satuan dan Dimensi

Besaran

Besaran Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari pengukuran. Karena diperoleh dari pengukuran maka harus ada alat ukurnya. Sebagai contoh adalah massa. Massa merupakan besaran fisika karena massa dapat diukur dengan menggunakan neraca.

Besaran non Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari penghitungan. Dalam hal ini tidak diperlukan alat ukur tetapi alat hitung sebagai misal kalkulator. Contoh besaran non fisika adalah Jumlah.

Besaran Fisika sendiri dibagi menjadi 2, yaitu besaran pokok dan besaran turunan.

1.      Besaran Pokok adalah besaran yang ditentukan lebih dulu berdasarkan kesepatan para ahli fisika. Besaran pokok yang paling umum ada 7 macam. Selain itu, terdapat dua besaran tambahan yang tidak memiliki dimensi, yakni sudut datar dan sudut ruang (tiga dimensi).

       Tabel 1.1 Besaran pokok dan satuannya

Description: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRf2Cnvd4WhcJsLuy79Umhs68iV6CqFQ9n10AeimM2NTqMfbEKm8A

2.      Besaran Turunan adalah besaran yang diturunkan dari besaran pokok. Besaran ini ada banyak macamnya.

Tabel 1.2 Contoh besaran turunan dan satuannya

Description: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTN4CJ9LjLgyBGCAoIFnvEmSsRuGxE4XhreqVxP-aQJ6ocBNP491g

Satuan

Satuan  adalah  suatu  pembanding  dalam  pengukuran atau membandingkan besaran dengan yang lain yang dipakai oleh patokan. Satuan merupakan salah satu komponen besaran yang menjadi standar dari suatu besaran. Adanya berbagai macam satuan untuk besaran yang sama akan menimbulkan kesulitan. Kalian harus melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu untuk memecahkan persoalan yang ada. Dengan adanya kesulitan tersebut, para ahli sepakat untuk menggunakan satu sistem satuan, yaitu menggunakan satuan standar Sistem Internasional, disebut Systeme Internationale d’Unites (SI).

Satuan Internasional adalah satuan yang diakui penggunaannya secara internasional serta memiliki standar yang sudah baku. Satuan ini dibuat untuk menghindari kesalahpahaman yang timbul dalam bidang ilmiah karena adanya perbedaan satuan yang digunakan. Pada awalnya, Sistem Internasional disebut sebagai Metre – Kilogram – Second (MKS). Selanjutnya pada Konferensi Berat dan Pengukuran Tahun 1948, tiga satuan yaitu newton (N), joule (J), dan watt (W) ditambahkan ke dalam SI. Akan tetapi, pada tahun 1960, tujuh Satuan Internasional dari besaran pokok telah ditetapkan yaitu meter, kilogram, sekon, ampere, kelvin, mol, dan kandela.

Sistem MKS menggantikan sistem metrik, yaitu suatu sistem satuan desimal yang mengacu pada meter, gram yang didefinisikan sebagai massa satu sentimeter kubik air, dan detik. Sistem itu juga disebut sistem Centimeter – Gram – Second (CGS).

Satuan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu satuan tidak baku dan satuan baku. Standar satuan tidak baku tidak sama di setiap tempat, misalnya jengkal dan hasta. Sementara itu, standar satuan baku telah ditetapkan sama di setiap tempat.

Dimensi

Dimensi suatu besaran adalah cara besaran tersebut tersusun atas besaran-besaran pokoknya. Pada sistem Satuan Internasional (SI), ada tujuh besaran pokok yang berdimensi. Dimensi dari suatu besaran dinyatakan dengan lambang huruf tertentu.

Tabel 1.3 Dimensi Besaran Pokok

Description: https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS60Kj7sLiSLe8YojcLXF091jHlrUwEih7IkO_P4mCk85r6FHBK

 

                        Tabel 1.4  Dimensi besaran turunan










Alat – alat ukur
Alat ukur yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari ada lima yaitu alat ukur panjang, massa, waktu, suhu, dan kuat arus listrik. Apakah kalian sudah pernah menggunakan salah satu dari alat untuk mengukur besaran tersebut? Kalian sebenarnya sering melihat kalau kalian bepergian ke mall ataupun pasar tradisional. Ketika kamu akan membeli jeruk 1 kg misalnya, maka penjual jeruk akan menimbang jeruk 1 kg dengan timbangan atau neraca.
A.            Alat ukur besaran panjang
Pada alat ukur besaran panjang yang kita bahas adalah penggaris, rollmeter atau meteran, jangka sorong, dan mikrometer sekrup.
  1. Penggaris atau mistar
Penggaris mempunyai skala terkecilnya 1 mm. Jadi ketelitian mistar adalah 0,5 mm. Ketelitian ini diperoleh dengan cara setengah dari nilai skala terkecilnya. Fungsi dari penggaris ini sering kita gunakan untuk mengukur panjang benda dengan panjang kurang dari 30 cm karena penggaris yang tersedia di pasaran hanya 30 cm. Kalau kita menggunakan rollmeter untuk mengukur benda yang panjangnya 10 cm tentu akan susah. Tapi jika kamu menggunakan mistar untuk mengukur panjang meja 2 meter juga akan susah kan?
Untuk mengukur menggunakan mistar, maka benda yang akan diukur diletakkan pada ujung mistar. Posisi mata harus melihat tegak lurus terhadap skala. Hal ini untuk menghindari kesalahan pembacaan hasil peng­ukuran akibat beda sudut kemiringan dalam melihat atau disebut dengan kesalahan paralaks.


2.      Rollmeter atau meteran
Apakah kamu sudah pernah memakai rollmeter? Kalau belum, meteran atau rollmeter ini sering digunakan oleh seorang tukang bangunan atau tukang kayu maupu petugas pengukur tanah. Panjang meteran itu sendiri sekitar 7 meter hingga 50 meter. Tergantung itu digunakan untuk mengukur apa. Kalau untuk mengukur panjang jalan, biasanya petugas pengukur jalan menggunakan rollmeter yang panjangnya mencapai 100 meter. Ketelitian meteran sama seperti penggaris yakni 0,5 mm. Skala terkecilnya juga sama dengan penggaris 1 mm.
3.      Jangka sorong
Apakah kalian pernah melihat orang menggunakan jangka sorong selain di laboratorium fisika? Kita bisa melihatnya di tukang pembuat kunci atau ahli kunci dan di bengkel mobil atau motor. Jangka sorong mempunyai skala terkecil 0,1 mm. Nilai ketelitian jangka sorong itu berbeda-beda, tergantung dari nilai skala noniusnya. Tapi rata-rata jangka sorong yang saat ini adalah 0,05 mm.
Description: cara menggunakan jangka sorong
Fungsi jangka sorong adalah untuk mengukur diameter luar maupun diameter dalam suatu benda yang bentuknya lingkaran. Jangka sorong juga bisa digunakan untuk mengukur kedalaman benda yang panjangnya tidak lebih dari 25cm. Pada mekanik yang menggunakan jangka sorong untuk mengukur ukuran ring mesin atau bagian dalam mesin mobil maupun motor yang rusak sehingga harus diganti yang sesuai dengan ukuran yang baru.
Bagaimana mengukur menggunakan jangka sorong? Perhatikan gambar berikut!

Untuk menentukan hasil pengukurannya, maka tentukan dahulu skala utamanya.

  1. Pada skala nonius, nol nonius terdapat di antara 2,4 cm dan 2,5 cm skala utama. Sehingga skala utamanya adalah 2,4 cm. 
  2. Kemudian carilah skala nonius yang berhimpit dengan skala utama. Pada gambar skala nonius yang berhimpit adalah angka 7. Nilai pada skala nonius adalah 7 x 0,01 cm = 0,07 cm.
  3. Jumlahkan skala utama dengan skala nonius. 2,4 cm +0,07 cm = 2,47 cm.
Jadi hasil pengukuran menggunakan jangka sorong adalah 2,47 cm

4.      Mikrometer sekrup

Dalam kehidupan sehari-hari kita sulit menemukan orang yang menggunakan mikrometer sekrup bahkan jarang sekali yah. Fungsi dari mikrometer sekrup adalah untuk mengukur ketebalan suatu benda yang sangat tipis. Misalnya untuk mengukur ketebalan kertas maupun ketebalan suatu logam. Skala terkecil mikrometer sekrup adalah 0,01 mm. Ketelitiannya adalah 0,005 mm. Kalau di pabrik kertas, seorang mekanik selalu memantau hasil cetakan kertas agar hasil kertasnya mempunyai ketebalan yang sama. Nah cara memantaunya bisa menggunakan mikrometer sekrup.

Description: cara menggunakan mikrometer sekrup




Pembacaan hasil pengukuran mikrometer sekrup pada gam­bar berikut
 






Skala utama yang terlihat pada gambar di atas adalah 2 mm
Skala nonius yang ditunjukkan pada gambar di atas adalah 42, maka hasil pengukurannya adalah: 
Skala utama = 2 mm 
Skala nonius = 42 x 0,01 = 0,42 mm 
Hasil pengukuran = skala utama + skala nonius  = 2 mm + 0,42 mm = 2,42 mm 

Alat ukur besaran massa
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur besaran massa disebut dengan nerata atau timbangan.
  1. Neraca ohaus
Neraca ohaus ini biasa kita jumpai di lab fisika, lab kimia, dan lab biologi. Neraca ohaus memiliki skala terkecil 0,5 gram dan bisa digunakan untuk mengukur beban maksimal 1 kg. Neraca ini digunakan untuk mengukur benda-benda yang kecil. Jangan digunakan untuk menimbang beras dalam jumlah yang banyak yah!
Description: cara menggunakan neraca ohaus














2.      Neraca pedagang
Nah kalau neraca pedagang ini biasa kita lihat di pasar tradisional. Kalau kita maup beli kentang misalnya 2,5 kg, maka penjual kentang akan menimbang dengan neracanya. Pedagang juga biasa menggunakan satuan ons atau 100 gram. Skala terkecil dari neraca pedagang ini 500 gram atau 0,5 ons.
3.      Necara analog
Kalau kita ingin mengetahui berat badan kita, kita bisa menimbang dengan neraca analog. Jarum neraca akan menunjukan besar masa kita misalnya 50 kg. Biasanya wanita akan sensitif kalau lihat berat badannya naik.
4.      Neraca digital
Neraca digital ini sangat mudah menggunakanannya, kita tinggal letakan benda saja di atasnya dan angka yang tertera pada neraca akan terlihat dan itulah besar massa benda yang kita timbang.

Alat ukur besaran waktu

  1. Jam
Ada banyak berbagai model jam, diantaranya jam dinding, jam tangan atau arloji, dan jam gantung. Jaman yang sekarang ini ada jam tangan digital yang anti air. Pada jam tersebut sudah ada kalender, alaram dan sebagainya. Ketelitian dari jam dinding ataupun jam tangan yang analog itu 1 detik. Fungsi dari jam tangan, kita bisa menghargai waktu agar bisa beraktivitas sesuai dengan waktu yang kita jadwalkan.
2.      Stopwatch
Kalau kalian lari, pak guru olahraga akan mengukur waktu tempuh kalian dengan menggunakan stopwatch. Ketelitian dari stopwach adalah 0,1 detik.

Alat ukur besaran kuat arus listrik

Alat yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik adalah amperemeter. Cara menggunakan amperemeter adalah dengan memasangnya secara seri. Ada juga yang namanya voltmeter untuk mengukur tegangan listrik. Kalau dipasaran, ada yang namanya avometer multifungsi yang bisa digunakan untuk mengukur kuat arus, tegangan, dan hambatan listrik.


Description: cara menggunakan multimeter

Alat ukur besaran suhu
Jika pasien demam, seorang dokter akan mengecek suhu badan. Alat tersebut bisa di pasangkan di ketiak, mulut dan selangkangan. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu badan ini adalah termometer. Ada berbagai jenis termometer. Termometer yang terkenal dan sering kita lihat bahkan kita pakai adalah termometer raksa. Karena di dalamnya ada air raksa. Mengapa pakai raksa? Karena raksa mudah sekali memuai jika kena panas.

Angka Penting
Angka penting adalah semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran. Angka penting terdiri dari atas angka pasti dan angka taksiran (angka yang diragukan) sesuai dengan alat ukur yang digunakan.
Misalnya panjang benda yang diukur ditunjukan seperti gambar 13. Pada gambar tersebut, tampak bahwa ujung benda terletak diantara angka 11,44 cm dan 11,45 cm. Sehingga, kita akanmenyatakan bahwa panjang benda yang mendekati kebenaran adalah 15,45 cm. angka terakhir, yakni angka 6 adalah angka perkiraan (taksiran), karena angka ini tidak terbaca pada skala mistar.

Aturan angka penting

1. Semua angka bukan nol adalah angka penting.
Contoh: 836,5 gr memiliki empat angka penting
2. Angka nol yang terletak di antara dua angka bukan nol termasuk angka penting.
Contoh:  75,006  Kg memiliki lima angka penting
3. Untuk bilangan desimal yang lebih kecil dari satu, maka angka nol setelah angka bukan nol termasuk angka penting.
Contoh: 0,0060 m memiliki dua angka penting
4. Untuk bilangan desimal yang lebih kecil dari satu, maka angka nol sebelum angka bukan nol tidak termasuk angka penting.
Contoh: 0,006 m memiliki satu angka penting
5. Bilangan-bilangan puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya yang memiliki angka nol harus ditulis dalam notasi ilmiah. Angka-angka pada notasi ilmiah merupakan angka penting.
Contoh: 8900 gr ditulis menjadi 8,9 x 10gr memiliki dua angka penting

Aturan Pembulatan Angka

Ketika angka-angka ditiadakan sari suatu bilangan, nilai dari angka terakhir yang dipertahankan ditentukan dengan suatu proses yang disebut pembulatan bilangan. Aturan pembulatan bilangan tersebut, antara lain:
·       Angka-angka yang lebih kecil daripada 5 dibulatkan ke bawah
·       Angka-angka yang lebih besar daripada 5 dibulatkan ke atas
·       Angka 5 dibulatkan ke atas jika sebelum angka 5 adalah ganjil dan dibulatkan ke bawah jika angka sebelum angka 5 adalah angka genap.

Operasi-operasi dalam angka penting

1. Operasi penjumlahan dan pengurangan
Dalam melakukan operasi penjumlahan atau pengurangan, maka hasilnya hanay boleh mengandung satu angka taksiran (angka terakhir dari suatu bilangan penting).
Contoh 1:
35,572                   2 angka taksiran
  2,2626 +            8 angka taksiran
37,8346                
4 dan 6 merupakan angka taksiran, sehingga hasil penjumlahan ditulis 37,835 disesuaikan dengan atuan pembulatan.
Contoh 2:
385,617                 7 angka taksiran
  13,2     –              2 angka taksiran
372,417                
4 dan 7 merupakan angka taksiran, sehingga hasil penjumlahan ditulis 372,42 disesuaikan dengan atuan pembulatan.
2.  Operasi perkalian dan pembagian
Dalam operasi perkalian atau pembagian, maka hasilnya hanya boleh memiliki angka penting sebanyak bilangan yang jumlah angka pentingnya paling sedikit.
Contoh 1:
34,231                   mengandung lima angka penting
  0,250   x              mengandung tiga angka penting
8,557750
Penulisan hasil perkalian hanya boleh mengandung tiga angka penting, sehingga hasil perkalian 8,557750 ditulis 8,56 (tiga angka penting).
Contoh 2:
46,532                   mengandung lima angka penting
200      :                  mengandung satu angka penting
0,2326
Hasil pembahian hanya boleh mengandung satu angka penting, sehingga hasil perkalian 0,2326 ditulis 0,2.


Daftar Pustaka

1.      Sunardi (2016), Fisika untuk SMA/MA Kelas X, Yrama Widya, Bandung, halaman 16 – 42.
2.      Reva, Yulietta (2016),  Fisika untuk SMA/MA Kelas X, CV Arya Duta, Depok, halaman 21 – 48.